Kapitalisme membuat Rakyat Makin Sengsara Ditengah Pandemik Virus Corona

Korban Covid-19 Semakin Bertambah, Yakinkah Jogja New Normal?

Kapitalisme membuat Rakyat Makin Sengsara Ditengah Pandemik Virus Corona. Oleh: M Azzam Al Fatih, Pemerhati umat dan aktivis dakwah.

Sudah hampir 3 bulan virus covid-19 melanda negeri ini. Tak bisa dipungkiri bahwa virus tersebut menimbulkan banyak dampak bagi masyarakat, terutama sektor ekonomi. Banyaknya perusahaan lumpuh yang berakibat jutaan karyawan pabrik diPHK. wirausaha kecil dan menengah pun tak luput dari dampak virus ini. Ada yang masih buka part time namun adapula yang tutup total. yang berakibat hilang kran ekonominya. Badan pusat statistik mencatat bahwa sampai detik ini, mencapai 60,88 jiwa, itu artinya bertambah sekitar 60%. Itupun belum termasuk pengangguran akibat dari Corona (katadata.co.id).

Dari sektor ekonomi tentu merembet pada lainya, misalnya kriminal seperti pencurian, perampokan, dan penjambretan. Hal ini wajar, sebab ekonomi yang merupakan sektor paling utama. Maka tatkala ekonominya jatuh tentu menyebabkan Pengangguran semakin meningkat. Di tambah kebutuhan keluarga yang tinggi ditunjang tidak adanya penghasilan, pasti akan mendorong seseorang mengambil jalan pintas dengan melakukan tindakan kriminal. Apalagi ditambah kebijakan pemerintah yang kontroversi dengan memberi asimilasi pembebasan napi dampak virus Corona (kompas.com)

Yang akhirnya, di tengah keresahan akibat virus corona dan sulitnya ekonomi, rakyat dibuat ketakutan dengan isu meningkatknya kriminalitas. Takut, was – was, gelisah, dan capek, mungkin itu yang dirasakan rakyat kecil di tengah pandemik virus Corona ini.

Ironisnya, disaat rakyat mengalami kesulitan hidup. Penguasa seolah tidak respeck, yang tadinya berkomitmen akan membantu rakyat lewat dinas sosial, sampai saat ini bantuan itupun belum cair. Rakyat hanya disuguhi berita dan informasi bantuan namun tak cair – cair. Entah apa yang menyebabkan hal ini berbelit-belit, apakah memang kas negara nihil sehingga hanya komitmen saja atau memang ada namun berhenti ditengah jalan, Wallahu’Alam. Yang pasti rakyat kecil seolah menjadi permainan, ibarat ayam dikurung kemudian dibuat gaduh lalu dipameri makanan.

Baca Juga :  Pasien Dalam Pengawasan Covid-19 di RSUD Kapuas Meninggal

Serba – serbi kebijakan yang aneh, tidak masuk akal dan berubah dalam masa pandemik covid-19 tersebut akan terus berlanjut dan sama sekali tidak berpihak kepada rakyat. Hal ini dikarenakan sistem kapitalisme yang masih mencengkram dan dipuja oleh para pengusungnya. Kapitalisme yang bertujuan untuk menjajah negeri muslim lewat sistem. Yang Didesain secantik mungkin, hingga banyak orang tertipu dan terbuai. Kapitlisme yang tolok ukurnya kepentingan akan terus menyenangkan dan memuliakan pemodal. Jadi, untung yang di maksud Kapitalisme tidak lain para pemodal. Sedang para jongos pengusung hanya mendapatkan debu dari kongkalikong mereka.

Perlu diperhatikan bahwa kapitalisme yang merupakan alat penjajahan asing tidak akan berpihak dan tidak ada belas kasihan kepada rakyat. Menginjak, memeras, dan menghabisi rakyat secara halus meski rakyat dalam kondisi kesulitan akibat bencana wabah virus Corona.

Apa yang terjadi di negeri +62 saat ini menjadikan contoh real kekejaman kapitalisme. Para pengusungnya semakin menampakkan kebobrokan sistem ini. Bagaimana mereka menangani pandemik covid-19 yang tidak tegas dan selalu berubah. Hukum aturan yang dibuatnya dinilai tidak adil, di mana kebijakan himbauan namun penegakanya menjadi pelarangan, di mana pelarangan namun tidak di imbangi dengan fasilitas lain, semisal pelarangan mudik namun tidak di jamin ekonominya padahal mereka tidak mempunyai penghasilan karena terkena PHK. Maka yang terjadi kelaparan bahkan ada yang meninggal.

Baca Juga :  Kalau Yakin Menang, Kenapa Sibuk Curang? Opini Asyari Usman

Berbeda dengan sistem Islam, sistem shohih yang berasal dari sang Kholiq penguasa jagad raya. Sistem dengan tolok ukurnya halal dan haram di mana setiap kebijakan distandarkan pada syar’i at dari Allah SWT, berupa Al Qur’an, Sunnah, ijma’ sahabat dan qiyas. Sehingga asasnya bukan keuntungan dan kerugian melainkan kemaslahatan dunia dan akhirat.

Maka, tatkala diterapkan akan membawa kebaikan seluruh manusia. Rakyat akan sejahtera, makmur dan tidak akan ada kelaparan. Sebab dalam penerapan sistem ini didasari ketaqwaan kepada Allah SWT yang selalu terikat hukum Syara’. Dia akan teringat akan datangnya hari akhir dan pembalasan dari Allah SWT. Di samping itu, hukum yang dijalankan adalah murni dari pencipta bukan buatan manusia yang didasari kepentingan dan berdasarkan nafsu.

Oleh karena itu jika menginginkan negeri ini menjadi yang lebih baik, kembalilah kepada pencipta dengan menerapkan sistem Islam. Karena tidak ada solusi yang lain. Di mana sistem ini telah terbukti selama berabad-abad membawa kerahmatan bagi seluruh umat dengan memayungi 2/3 dunia.

Wallahu’Alam Bhishowwab.

Loading...