oleh

Prestasi Seorang Presiden, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Prestasi Seorang Presiden, Catatan kecil pojok warung kopi ndéso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Presiden itu kepala negara, dan negara adalah konstruksi dari kontrak sosial (John Locke). Itu dasar filosofisnya. Maka bagi seorang presiden, kriteria berprestasi tentu berbeda dengan prestasi seorang ketua partai, atau prestasi manajer perusahaaan, lebih-lebih rakyat biasa. Secara politis, prestasi seorang presiden dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain:

1) pertumbuhan ekonomi tinggi;

2) meningkatnya daya beli masyarakat;

3) turunnya harga kebutuhan publik terutama harga-harga sembako (sembilan bahan pokok);

4) menguatnya rupiah di mata US Dollar selaku currency world dan mata uang asing lainnya;

Baca Juga :  LBH PP GPI Minta Kasus Novel Baswedan Diungkap Aktor Sesungguhnya

5) mampu melunasi hutang-hutang negara dan meningkatkan devisa negara;

6) kondisi ekonomi, sosial dan budaya serta situasi keamanan yang terkendali (stabilitas ipoleksosbud hankam);

7) dan seterusnya.

Dari beberapa indikator tentang kriteria keberhasilan atau prestasi presiden di atas, tidak ada atau tidak ditemui aspek “membangun infrastruktur” sebagai indikator sebuah prestasi. Karena membangun infrastruktur merupakan kewajiban presiden. Yang sudah terprogram secara berkala, bertahap atau berkesinambungan di setiap Kementerian. Betapapun presidennya gonta-ganti. Master plan setidaknya sudah ada sejak jaman Soeharto, bahkan Soekarno.

Ironisnya, yang terjadi kini adalah dana pembangunan infrastruktur yang berasal dari hasil hutang. Bahkan dana kesehatan masyarakat semacam BPJS, dan dana haji diklaim sebagai prestasi. Walhasil, keberhasilan rezim adalah menumpuk beban hutang. Memang, katanya tidak ada beban masa lalu, tetapi menambah beban hutang dimasa yang akan datang.

Baca Juga :  Protes Pembakaran Bendera Tauhid, Umat Islam Mengecam Oknum Banser

Hampir enam presiden silih berganti di negeri ini. Tapi sebelumnya tidak ada satupun yang membanggakan program pembangunan infrastruktur sebagai prestasi. Jadi, apa yang terjadi kini bahwa aspek membangun infrastruktur dianggap prestasi yang luar biasa. Jelas selain hanya upaya framing media sebagai pencitraan, juga wujud dari klaim sana-sini. Karena hampir tak ada infrastruktur yang dapat diselesaikan cuma dalam empat tahun kecuali terminal angkot, mungkin. Ya mbuh lagi jika dibantu oleh jin atau sebangsa makhluk alien yang jatuh gedabruk di gunung-gunung.

Ahh…mendadak jadi ingat cerita legenda Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi untuk Roro Jonggrang dalam waktu semalam. Lalu dihancurkan saat ayam berkokok. Rupanya itu ‘sanepo’ untuk pembangunan infrastruktur sekarang ini, banyak kejadian rusak sebelum diresmikan. Bahkan beberapa ruas jalan tol telah dijual ke asing.

Baca Juga :  Sebut Jokowi Kayaknya Banci, Habib Bahar Dilaporkan ke Bareskrim
Loading...

Baca Juga