oleh

Narasi Keadilan Ala Semesta, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Narasi Keadilan Ala Semesta. Oleh: Malika Dwi Ana, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Berfoto di relief Bima dengan kain batik polèng hitam putih, membuat saya semakin mengagumi tokoh Bima Sang Avatar Syiwa. Sebagai salah satu dari Pandawa, Bima memiliki (dominan) sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci.

Jika Arjuna dikenal lemah lembut, diasuh oleh avatar Wisnu yaitu Krisna, maka Bima yang dikenal gross, kasar, diasuh oleh avatar Siwa yaitu Dewa Ruci, arti kata Ruci berkaitan dengan air.

Baca Juga :  Sandi Dialog Bareng 146 Ulama dan Relawan Keumatan Se Tapal Kuda

Seperti sifat air yang dalam; diam, tenang, anteng, namun menghanyutkan. Apalagi jika datang amarahnya, dia akan mengelegar, menerjang apa saja yang menghalangi jalannya, jika mempunyai karep, kehendaknya tidak bisa ditawar, kekuatan dahsyat dan keinginan untuk menegakan apa yang seharusnya, meskipun caranya sering diluar batas kewajaran, itulah Bima.

Bima merupakan simbol dari kekuatan lautan dan air (ruci), naga, kekuatan vulkanik dan gempa bumi, putra dari Bayu, pembawa air hujan, air bah, banjir bandang, juga sekaligus badai dan taufan, kekuatan pengubah alam yang sangat dahsyat, yang mampu mengobrak-abrik peradaban, dan memporak-porandakan kehidupan dengan tiba-tiba. Bima adalah simbol air kehidupan yang jujur, apa adanya, tidak neko-neko, lugu, tidak butuh pencitraan, berani dan tegas, sosok yang langka sekali di era ‘kedunguan masal’ sekarang ini.

Baca Juga :  Closing Statement di Acara Debat Pilpres
Narasi keadilan itulah Bima… Avatar Syiwa yang muncul menegakkan keadilan dengan caranya. Bahwa, alam semesta ini bergerak dengan keseimbangan, atau keselarasan, maka perbuatan jahat apapun; pembodohan, pembohongan, pemiskinan, ketidak adilan, akan menggangu keseimbangan alam.

Jika ini terjadi berlarut-larut, dan menumpuk, maka akan diakumulasi oleh alam sehingga membuahkan apa yang disebut manusia sebagai bencana. Karena wujud penegakan keadilan oleh alam demi mempertahankan keseimbangannya biasanya dalam rupa bencana; bisa tsunami, gunung meletus, gempa bumi, dan lain-lain. Gunung gunung dibarubuh, tatangkalan dituaran, cai caah babanjiran, buana marudah motah.

Filsuf Jawa, Ronggowarsita dalam sebuah karyanya pernah mengabarkan tentang sepotong zaman yang mengalami dekadensi disetiap lini. Ia mengistilahkan dengan sebutan jaman kalabendu (kala : jaman, bendu : kualat).

Bendu bermakna kualat, oleh sebab penghukuman—terkena kualat—karena pilihan si manusia sendiri. Jadi, bukan sebagai azab seperti disebutkan orang-orang kebanyakan; terkena azab karena nganu misalkeun.

Baca Juga :  Kembali Merajut Indonesia, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Jika sirkulasi waktu dimana jaman yang dinarasikan oleh Ronggowarsita itu diletakkan, maka sekarang lah saatnya. Jaman paling nista dalam sebuah negara itu ketika semua rakyatnya, dipimpin pejabatnya: berlomba untuk menghancurkan dirinya, negaranya, seperti Indonesia.

Ibu Pertiwi saat ini dipermalukan, dikoyak kain harga dirinya, di hadapan orang banyak, laksana Drupadi. Republik ini menjadi coreng moreng dengan demokrasi pasar, demokrasi yang sangat liberal, hingga persatuan dan kesatuan bangsa menjadi centang perenang, kohesi sosial bangsa yang robek disana-sini oleh sengkarut politik.

Maka hanya Bima Suci sebagai finalisasi semua masalah. Keadilan akan selalu menjadi kunci dari penyelesaian semua masalah. Iya, bencana yang akan menyatukan bangsa ini.

Loading...

Baca Juga